Sabtu, 30 Oktober 2010
Mungkin Anda pernah membaca status teman di Facebook yang dibawahnya ada tulisan “melalui Facebook untuk Blackberry” seperti gambar di bawah ini:
sebenarnya kita juga bisa menulis status seperti ini tanpa menggunakan BlackBerry, artinya walaupun kita mengupdate status dari komputer, yang terlihat adalah tulisan Facebook untuk Blackberry, seperti aku juga membuat aplikasi update status sendiri bernama Himatika FMIPA Unhas yang bisa diakses di sini
Yang perlu Anda ketahui, membuat aplikasi update status ini gratis dan mudah, artinya Anda tidak perlu memahami bahasa pemrograman ataupun sejenisnya. Sebagai contoh aku akan membuat aplikasi update status bernama Rumah Chimank. Ikuti langkah-langkahnya
1. Login ke akun Facebook Anda
2. Buka aplikasi Status Generator yang beralamat di http://apps.facebook.com/statusgen/
3. Izinkan aplikasi mengakses data diri Anda

4. Sampai di halaman utama, klik Create (lihat gambar di atas)
5. Akan muncul halaman Create (lihat gambar di atas), halaman ini jangan diclose sampai semua langkah selesai
6. Buka halaman Facebook Pengembang di sini
7. Apabila Anda menemui halaman konfirmasi, klik Izinkan/Allow

8. Lihat bagian kanan atas, klik tombol Atur Aplikasi Baru atau Setup New Application (lihat gambar)
9. Perhatikan gambar di atas, tulis nama aplikasi, apabila Anda menulis Rumah Chimank, maka status Anda akan bertuliskan melalui/via Rumah Chimank
10. Klik Setuju lalu klik tombol Buat Aplikasi Baru

11. Apabila ada pemeriksaan keamanan, tulis sesuai contoh di atas, lalu klik tombol Submit
12. Apabila ada pesan error dari Facebook (bukan karena kesalahan memasukkan kata pada pemeriksaan keamanan) klik di sini (apabila tidak muncul pesan error, langsung ke langkah 13) maka akan terbuka halaman Facebook | Pengembang (lihat gambar atas) klik nama aplikasi yang Anda buat, misal Rumah Chimank, letaknya di kolom Aplikasi Saya. Apabila nama aplikasi yang Anda buat tidak ada dalam daftar, ulangi lagi dari langkah 6
13. Setelah halaman terbuka, klik tombol Sunting Pengaturan
14. Pada kiri halaman, ada menu seperti di atas, klik tombol Facebook Integration
15. Isi Halaman Kanvas/Canvas Page, apabila Anda menulis rumahchimank (tanpa spasi) seperti contoh, alamat aplikasi Anda yaitu http://apps.facebook.com/rumahchimank
16. Ganti Canvas Type ke Fbml (lihat gambar)
17. Klik Simpan Perubahan


18. Kembali ke halaman berjudul Status Generator di Facebook, isikan Application ID, API Key, Secret, Application Name, dan Canvas Page sesuai yang ada di halaman berjudul Facebook | Pengembang sebagai contoh lihat gambar di atas
19. Klik tombol Tekan tombol ini di halaman Status Generator
20. Bila berhasil, akan muncul tulisan di atas, bila ada yang salah, ulangi langkah 18
21. Buka Facebook | Pengembang di sini -> klik nama aplikasi (misal: Rumah Chimank) -> Sunting Pengaturan -> Facebook Integration -> Isi URL Kanvas dengan kode yang didapat di langkah 20
22. Klik Simpan Perubahan
23. Aplikasi selesai dibuat, sebagai percobaan buka aplikasi Anda,
24. Tuliskan status Anda, misal di rumah, lalu klik Update Status Anda
25. Buka profil Anda, dan Anda akan melihat tulisan seperti ini XD26.
Selesai, silahkan mengupdate status Anda, untuk mempercantik aplikasi, buka halaman Facebook | Pengembang lalu klik Sunting Pengaturan (seperti langkah 13) dan ganti ikon dan logonya.

Sekilas tentang Yahoo Koprol

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa sih sebenarnya KOPROL ini? Apakah semacam Fesbuk berbahasa Indonesia? Atau situs lokal penjual alat-alat olaharaga? Bukan! Koprol ngga menjual barang atau jasa apapun, koprol ada jejaring sosial yang berbasis lokasi, buatan orang Indonesia.
Koprol
Adalah Satya Witoelar, dibalik keberadaan Koprol ini. Beliaulah yang mempunyai ide untuk membuat jejaring sosial mobile ini. Di Koprol, kita diajak untuk merasakan pengalaman baru dalam bersosial, dimana kita bisa mengetahui lokasi teman kita berada.
Keunggulan Koprol dibanding jejaring sosial lain seperti Twitter dan Plurk adalah fitur Chek In. Dimana kita bisa menginformasikan lokasi keberadaan kita kepada teman-teman yang tehubung dengan Koprol. Lewat Koprol, kita juga me-review berbagai tempat yang telah tercantum didalamnya. Mencari tempat makan terfavorit, lokasi hang-out yang cozy atau lahan mur-mer yang appropriate.
Lokasi kalian belum ada di dalam Koprol? Just suggest any place you like. Your office buildings, your apartment, your tennis court, whatever! You can be anywhere you like in Koprol. Kecuali tempat-tempat berikut: Rumah Saya, Kamar Mandi Wanita di PIM 2, dan tempat-tempat ngga masuk diakal lainnya.
Belum tergabung dengan Koprol? Don’t be the last one. Join now before you grow old and forget how fun is to be connected!

Chatting di hp dengan mig33

Minggu, 03 Oktober 2010

Hai anak nongkrong. . .
Mungkin sebagian dari kamu pengguna PC terbiasa chating dengan menggunakan fasilitas chating yang berjalan pada sistem operasi windows, macintos, ataupun linux.

Hmmm. . . Udah tahu belum bahwa sebenarnya kamu juga dapat melakukan chating menggunkan handphone yang kamu pakai dengan menggunkan aplikasi yang berplatform java.
Dengan semakin murahnya tarif akses data (gprs/3g) dari berbagai operator, chating pada hand phone sekarang merupakan sebuah tren. Dan mungkin malah sebaian daripada pengguna hp yang jarang menggunakan pc lebih senang chating menggunkan hp. Chating pada hp memiki beberapa keuntungan, karena dapat dilakukan kapanpun dan dimana pun. Contohnya saja jika kita sedang menunggu seseorang, ya daripada kamu bete2an sambil mikirin ya nggak2, kamu bisa iseng-iseng chating.
Salah satu applikasi yang banyak dipakai oleh para pengguna mobile chat adalah mig33 . Pengguna applikasi mig33 sangatlah banyak dan semakin bertambah.



Photobucket


Mig33 mempunyai daya tarik yang lebih daripada yang lainya maka mig33 saat ini merupakan mobile chat yang paling banyak digemari.
Untuk dapat melakukan chating pada mig33, kamu dapat melakukan langkah- langkah sebagai berikut.
1. Pastikan GPRS pada hp kamu udah aktif.
2 . Kunjungilah wap.mig33 .com dan buatlah account mig33 . Pada bagian ini kamu akan diminta melakukan registrasi dengan menggunakan no hp kamu jangan lupa gunakan format ( contoh: 62815 ..... bukan 0815...). Nanti pada no hp kamu akan dikirimkan sebuah code untuk mengaktifasi account kamu.
3 . Download aplikasi mig33 dan jalankan pada hp.
4 . Masukanlah code yang telah dikirimkan mig33 melalui sms. Selajutnya kamu bisa melakukan chating, dan berkenjung ke berbagai room yang ada.
NB:
Jika gagal login, kamu dapat menggunakan type coneksi menjadi manual conection dengan mengganti port 25 menjadi 9119.
Selain pada hp, kamu juga bisa melakukan chating pada pc. Caranya anda bisa chating di www.mig33 .com dengan login menggunakan account mig33 yang anda punya. Selain itu kamu juga bisa menggunakan emulator yang dapat menjalankan aplikasi java pada pc kamu, contohnya sjBoys. Kamu bisa mendownload aplikasi mig33 di www.getjar.com atau Klik di sini
Gimana? Mudahkan?. . . Good luck plend.



add nikQu nah klu sdh di coba ---> c.h.i.m.a.n.k.-

Badik Titipan Ayah

Sabtu malam (02/10), teman-teman pesbuk pada rame nulis status yang hampir-hampir sama. Jarang-jarang lho. Apalagi ini cuman tentang sebuah tayangan FTV di SCTV. Sebenarnya ceritanya biasa aja bagi sebagian orang. Menjadi tidak biasa, khusunya bagi suku Bugis-Makassar karena cerita yang diangkat adalah tentang adat istiadat Bugis Makassar.

Dibalik Cerita "Badik Titipan Ayah"
Badik Titipan Ayah berlatar belakang masyarakat Bugis-Makassar tentang perjuangan mempertahankan harga diri keluarganya. Alkisah Karaeng Tiro (diperankan dengan baik oleh Aspar Paturusi) dan istrinya Karaeng Ca’ya (diperankan sangat cemerlang oleh Widyawati) dilanda prahara keluarga yang sangat memalukan yaitu anak gadis mereka Andi Tenri (Tika Bravia) kawin lari (silariang) dengan kekasihnya yang bernama Firman.

Tenri yang terlebih dahulu hamil sebelum menikah ini berharap bahwa Tetta (panggilan Ayahnya) akan menyetujui hubungannya dengan Firman. Namun sang Ayah yang tidak menyetujui hubungan mereka karena masa lalu yang tragis menimpa Keluarga Karaeng Tiro dan keluarga Firman. Tetta yang marah karena anak gadisnya memilih kabur dari rumah, meminta anak lelakinya mencari mereka dan membunuhnya dengan badik warisan. 
Budaya Siri dan Kawin Lari (silariang)
Di dalam kebudayaan Bugis Makassar, ada istilah yang dikenal dengan kawin lari (silariang), yaitu ketika seorang pria membawa kabur seorang wanita yang dicintainya. Bagi keluarga si wanita, ini merupakan suatu hal yang sangat memalukan (siri).

Kawin lari sendiri bisa disebabkan karena berbagai hal. Misalnya hubungan yang tidak disetujui oleh orang tua karena perbedaan ini itu, hamil di luar nikah ataupun keinginan untuk menikah namun belum siap secara materi dan finansial. Maka kawin lari jadi alternatif, walaupun akibatnya bisa fatal bahkan nyawa bisa melayang. Nah lho..??

“ Untuk orang bugis makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup yang lebih tinggi daripada menjaga Siri’nya, dan kalau mereka tersinggung atau dipermalukan (Nipakasiri’) mereka lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada hidup tanpa Siri’. Mereka terkenal dimana-mana di Indonesia dengan mudah suka berkelahi kalau merasa dipermalukan yaitu kalau diperlakukan tidak sesuai dengan derajatnya. Meninggal karena Siri’ disebut Mate nigollai, mate nisantangngi artinya mati diberi gula dan santan atau mati secara manis dan gurih atau mati untuk sesuatu yang berguna." Shelly Errington (1977 : 43)

Sebenarnya kawin lari hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang termasuk dalam konsep siri' ini. Intinya, siri itu adalah malu atau perbuatan yang memalukan atau mencemarkan nama baik keluarga. Mungkin konsep siri inilah yang mendarah daging sehingga orang Bugis Makassar menjadi terkenal dengan wataknya yang keras dan pemberani (rewa).

Sejalan dengan perkembangan zaman, konsep siri ini semakin hari makin terkikis keberadaannya. Bahkan banyak orang Bugis Makassar sendiri tidak memahami esensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalam konsep siri.

GAJAH MADA ASLI DARI PULAU BUTON

Jumat, 01 Oktober 2010

GAJAH MADA LAHIR DI PULAU BUTON DAN LOKASI WAFATNYA ADA DALAM SEBUAH GUA DI KEPULAUAN WANGI-WANGI

 Oleh : Ali Habiu
Siapa itu Gajah Mada…??
Leo Suryadinata mengakui, sejarah awal kehidupan Gajah Mada tidaklah begitu jelas. Namun, Encarta Encylopedia berani memperkirakan Gajah Mada lahir tahun 1290 M. Jadi, ia lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara. Pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supernatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut. Berdasarkan petunjuk spiritual menyebutkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari pasangan Si Jawangkati dengan Lailan Mangrani. Sijawangkati merupakan pembantu Si Malui dan adiknya bernama Si Baana dan sebagai manusia yang kedua datang di pulau Buton. Si Jawangkati dating ke pulau Buton menemani Si Malui dan Si Baana pada hari bulan sya’ban tahun 634 Hijriah dengan menumpangi behtera kapal bernama “Popanguna” berbenderakan Buncaha yakni bendera dengan motif warna kuning hitam selang-seling yang tak lain adalah bendera kerajaan asal leluhurnya dari daerah Bumbu negeri Melayu Pariaman. Pada akhir tahun 1236 M, Si Jawangkati beserta tuannya terdampar di sebelah utara timur laut Buton yakni “kamaru” dengan bentengnya bernama “Wonco”. Si Jawangkati dengan memimpin rombongan kecil berpamitan dengan Si Malui dan Si Baana untuk mencari daerah hunian baru dan setelah ditemukan hunian ini bernama “Wasuembu”. Setelah menemui tempat baru ini Si Jawangkati langsung membuat perkampungan serta benteng pertahanan bernama “Koncu” di Wabula. Tak lama berselang kedatangan Si Jawangkati di pulau Buton, maka datanglah serombongan para anak-anak bangsawan dari pulau Jawa. Anak-anak bangsawan tersebut tak lain adalah Raden Sibatara, Raden Jutubun dan Lailan Mangrani yang merupakan anak-anak dari Raden Wijaya sebagai Raja Mataram sebelum gabung dengan Majapahit. Kedatangan ketiga anak-anak Raden Wijaya tersebut bukan tidak beralasan, mereka dating atas petunjuk ghaib yang diterima oleh dukun atau penasehat istana kerajaan Majapahit untuk memerintahkan anak-anak Raden Wijaya tersebut mencari suatu pulau yang terdapat di Wilayah Timur Nusantara bernama pulau Buton. Setelah menemui pulau Buton ketiga anak-anak Raden Wijaya diperintahkan untuk membangun Bandar perniagaan. Kedatangan putra putrid Raja Majapahit itu menggunakan dua Armada antara lain satu armada dipimpin oleh Raden Sibahtera dengan adiknya Lailan Mangrani disertai dengan 40 pengikutnya, sedangkan armada yang satu dipimpin oleh Raden Jutubun beserta 40 pengawalnya. Kedua armada tersebut masing-masing membawa bendera leluhurnya yang dipasang diburitan kapal dengan warna bendera merah putih dan bendera ini dinamai “dayialo”. Kedua armada ini setelah tiba di laut Buton selanjutnya disambut oleh Si Jawangkati dan Si Tamanajo di teluk Kalampa tempat kedua armada tersebut berlabuh. Tak lama berselang beberapa tahun kemudian setelah Raden Sibahtera telah dinobatkan menjadi Raja Pertama Buton dengan permaisurinya bernama gelar Wa Kaa Kaa atau nama aslinya Mussarafatul Izzati Al Fakhriy, maka kawinlah Si Jawangkati dengan Lailan Mangrani. Hasil dari perkawinan Sijawangkati dengan Putri Raden Wijaya di pulau Buton ini membuahkan 3 (tiga) orang anak, yakni 2 (dua) laki-laki dan 1 (satu) perempuan.  Nah..., anak pertama Si Jawangkati bersama Lailan Mangrani ini adalah seorang bayi yang cukup besar dan berparas jelek dan diberi nama Gajah Mada.  Mulai umur 3 tahun Gajah Mada ini memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa baik secara kekuatan fisik maupun instinksi dan setelah usia mencapai 7 tahun maka dilatihlah oleh ayahnya ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian. Perlu diketahui bahwa Si Jawangkati ini adalah seorang amat sakti dari asal keturunan para wali negeri melayu. Kemudian setelah ilmu kanukragan dan ilmu kesaktian telah diturunkan oleh ayahandanya kepada Gajah Mada, genap usia 15 tahun Gajah Mada di bawalah ke pulau Jawa oleh ibunya Lailan Mangrani untuk membantu Raden Wijaya dalam kesulitan melawan para pemberontak asal dari dalam lingkungan kerajaan Majapahit. Disanalah awal kisah Patih Gajah Mada dalam peranannya membantu neneknya sendiri yakni Raden Wijaya untuk memberantas para penjahat dalam lingkungan dalam kerajaan. Leo Suryadinata menulis, Gajah Mada mengandalkan intelijensi, keberanian, dan loyalitas dalam meraih mobilitas vertikalnya. Karirnya lanjutannya adalah kepala pasukan Bhayangkara, pasukan penjaga keamanan Raja dan keluarganya. Raja yang menjadi junjungannya saat itu adalah Jayanagara yang berkuasa di Majapahit sejak 1309-1328 M. Menjadi mungkin, Gajah Mada telah meniti karir militer sejak kekuasaan Raden Wijaya, raja pertama Majapahit, dan sedikit banyak memahami spirit pemerintahannya. Jayanagara ini adalah putra pasangan Raden Wijaya dengan seorang putri Sumatera (Jambi) bernama Dara Petak. Sebab itu, darah yang mengalir di tubuh Jayanagara bukanlah pure Jawa. Anggapan yang relatif rasis ini merupakan fenomena sebuah kancah politik hegemoni dalam kekuasaan aneka suku bangsa tatkala itu. Buktinya, pernah tahun 1316 M muncul pemberontakan Nambi yang menurut gimonca.com muncul akibat sentimen "darah" Jaya Nagara tersebut. Meski pemberontakan itu berhasil dipadamkan, seolah sesuatu yang laten (faktor rasisme) 'menyala' dalam politik Majapahit ini. Tatkala Gajah Mada jadi kepala pasukan Bhayangkara, meletus pemberontakan Ra Kuti, salah satu pejabat istana tahun 1319 M. Pemberontakan ini cukup menohok, oleh sebab si pemberontak mampu menduduki ibukota. Jayanagara berikut istri Raden Wijaya dan putrinya (Tribhuwanattungadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita) mengungsi ke Bedander. Selaku kepala pasukan keamanan, Gajah Mada memastikan keamanan raja dan keluarga. Setelah dinyatakan save, ia berbalik ke ibukota guna menyusun serangan balasan. Ia meneliti kesetiaan rakyat dan pejabat Majapahit kepada Raja Jaya Nagara dengan memunculkan isu keterbunuhan raja. Menurut anggapannya, raja dan sebagian besar pejabat Majapahit menyayangkan kematian raja dan membenci perilaku Ra Kuti. Atas dasar ini, Gajah Mada menyusun serangan balasan secara kemiliteran, dan berhasil membalik keadaan. Pemberontakan Kuti pun dipadamkan. Raja dan keluarganya kembali ke ibukota. Kebijakan Jayanagara ditopang oleh kemampuan politik Arya Tadah, mahapatih Majapahit. Fokus kebijakan raja dan mahapatih ini adalah stabilitas politik dalam negeri. Jadi, Majapahit belum lagi melakukan penaklukan ke pulau-pulau "luar" Jawa. Ini mengingat Gajah Mada belum memegang peran penting di dalam pembuatan keputusan politik level negara. Atas jasanya memadamkan pemberontakan Kuti, Jayanagara menaikan status Gajah Mada dari sekadar komandan pasukan Bhayangkara menjadi menteri wilayah (patih) dua daerah kekuasaan Majapahit: Daha dan kemudian, Jenggala. Posisi tersebut cukup berpengaruh mengingat dua wilayah tersebut diwenangi oleh putri Tribuwanattunggadewi (Daha) dan Dyah Wiyat (Jenggala), dua saudari tiri Jayanagara. Jayanagara sendiri belumlah memiliki putra laki-laki selaku penerus tahta. Bukti mengenai hal ini, seperti ditulis Heritage of Java, sebuah enskripsi bernama Walandit menceritakan gelar Gajah Mada dalam kekuasaan barunya itu adalah Pu Mada. Wilayah yang diwenangi kepatihan Gajah Mada adalah Jenggala-Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara tidaklah tetap. Versi cerita seputar perubahan loyalitas tokoh ini pada rajanya, paling tidak ada tiga. Seluruhnya berorama motif pribadi. Pertama, dari Charles Kimball yang menulis, loyalitas Gajah Mada terhadap Jaya Nagara mengalami titik balik tatkala raja mengambil istri Gajah Mada selaku haremnya. Kedua, Kitab Negara Kertagama olahan Empu Prapanca menulis, perubahan loyalitas Gajah Mada akibat mulai jatuh hatinya Raja Jayanagara terhadap dua saudari tirinya: Tribuwanattunggadewi dan Dyah Wiyat. Empu Prapanca ini akrab dengan Gajah Mada sendiri. Ketiga, novelis Langit Kresna Hariyadi, yang menulis loyalitas Gajah Mada terhadap Jayanagara berubah akibat kekhawatian Gajah Mada atas mulai berubahnya sikap raja terhadap Tribhuwanattunggadewi. Ketiga asumsi tersebut melatarbelakangi proses meninggalnya Raja Jayanagara tahun 1328. Versi meninggalnya Jayanagara pun berlatar belakang loyalitas Gajah Mada pada Jayanagara. Versi Kimball menyatakan, Gajah Mada menskenario pembunuhan atas Jaya Nagara dengan memanfaatkan tangan Ra Tanca, tabib istana. Tanca dipaksa membunuh Jaya Nagara akibat suruhan Gajah Mada dalam suatu proses pembedahan atas diri raja. Versi ini didukung pula oleh pendapat Leo Suryadinata, yang juga menulis kekecewaan Gajah Mada akibat istrinya diambil oleh raja sebagai motif asasinasi. Setelah raja meninggal, Gajah Mada menuding Tanca ini telah membunuh raja dan ia pun dieksekusi mati olehnya sendiri. Peristiwa 1328 M ini menggambarkan rumitnya politik pada aras Palace Circle. Kepentingan pribadi berbaur dengan nasib dan masa depan suatu negara. Pada masa terbunuh dan digantinya Jayanagara ini, Odoric dari Pordonone, pendeta ordo Fransiskan dari Italia mengunjungi Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Setelah terbunuhnya Jayanagara, Gajah Mada berkeras Tribhuwanattunggadewi dijadikan ratu Majapahit. Belum ditemukan bukti yang cukup seputar alasan kekerasan hati Gajah Mada atas penunjukan ini. Namun, dari analisis ras, Gajah Mada mungkin khawatir singgasana akan jatuh pada Arya Damar, keturunan Raden Wijaya dari istri yang asal Jambi. Sementara, Tribhuwanattunggadewi adalah putri keturunan Raden Wijaya asli pulau Jawa. Mungkin saja, opini yang muncul saat itu adalah putra asli atau bukan. Atau, dimungkinkan pula, dengan beralihnya kekuasaan pada ratu ini, Gajah Mada lebih leluasa dalam mengambil tindakan. Konflik suksesi ini terbukti dengan baru dilantiknya Ratu Tribhuwanattunggadewi tahun 1329, sekurang-kurangnya menurut Charles Kimball. Pemimpin perempuan Majapahit ini berkuasa sejak 1329 hingga 1350 M. Pada fase ini, Majapahit memulai fase penaklukannya. Mahapatih Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, dan praktis posisi tersebut jatuh ke tangan Gajah Mada. Tribhuwanattunggadewi sangat mendukung program-program Gajah Mada. Tahun 1331 M meletus pemberontakan Sadeng dan Keta, di wilayah timur Pulau Jawa. Gajah Mada mengirim ekspedisi militer ke sana dan berhasil memadamkan pemberontakan wilayah tersebut. Ra Kembar, salah satu bangsawan dan pejabat Majapahit berusaha menutup jalan pasukan Gajah Mada ke wilayah Sadeng, baik secara politik maupun militer.
Dimana Gajah Mada Wafat….? 
Beberapa referensi menyebutkan bahwa Gajah mada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dihianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa BUBAT dimana Gajah Mada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajah Mada di wilayah itu asketis (setabasri01.blogspot.com) Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk (Rajasanagara) sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajah Mada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini, Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau "luar" seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan. Dalam pandangan spiritual penulis Gajah Mada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton. Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajah Mada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan tukang besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi. Perlu diketahui bahwa Gajah Mada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalannya pulau ke pulau Buton dia dituntun secara ghaib dan mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajah Mada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi dengan memasang simbol-simbol disana. Pada saat rombongan Gajah Mada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini diperkirakan pertengahan Abad XI yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut tobelo). Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajah Mada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk ghaib, Gajah Mada memutuskan untuk wafat di pulau ini, sementara ke 40 prajurit setianya diperintahkan untuk melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajah Mada yang amat sakti ini tetap terjaga. Gajah Mada akhirnya di pulau kecil sebelah barat wangi-wangi tersebut memutuskan untuk melakukan tapah brata didalam sebuah gua di wilayah Togo Mo'ori yang mana situasi gua tersebut didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gaja Mada meninggalkan alam maya padah ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai salah satu senjata andalannya. Bukti-bukti ontologisme dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajah Mada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga tertentu di pulau wangi-wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut. Selain itu bukti-bukti secara artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan metafisis penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau wangi-wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai batu Mada. Pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, menunjukkan bahwa keberadaan batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajah Mada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti.
Sedangkan ke 40 orang prajurit setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan wangi-wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua yang lebar dan luas. Dan di dalam gua inilah ke 40 orang prajurit setia Maha Patih Gajah Mada melakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan dan terkubur secara alamiah di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri, kampung Mada di Batauga pulau Buton. Berdasarkan kisah konseptual, spiritual dan ontologisme riwayat Maha Patih Gajah Mada, maka postulat dapat disimpulkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari Si Jawangkati dengan ibu bernama Lailan Mangrani yang tak lain adalah anak perempuan dari Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Si Jawangkati adalah salah seorang mia patamiana wolio yang pada zamannya dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan disegani dikalangan penguasa pada saat itu. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkiologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar sekaligus mengangkat harkat dan martabat orang-orang buton pada zamannya.

*). Penulis adalah Ketua Umum Lembaga KABALI (bergerak sibidang pelestaran nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya).